JUARAnews.co BOLMONG – Di banyak tempat, waktu berbuka puasa biasanya disambut di masjid, di rumah-rumah, atau di ruang-ruang kebersamaan lainnya. Namun di Desa Siniyung, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, senja Ramadan menghadirkan cerita yang berbeda sebuah kisah tentang kebersamaan yang melampaui sekat-sekat keyakinan.
Di desa itu, lantunan doa dan rasa syukur bertemu dalam satu ruang yang sama, sebuah gereja. Tepatnya di Gereja Pniel Siniyung, tempat jemaat merayakan syukuran Hari Ulang Tahun ke-113 mereka. Di tengah sukacita perayaan itu, hadir pula saudara-saudara muslim yang datang bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar desa.
Sangadi Siniyung, Osland Lawrance, bersama imam masjid setempat dan sejumlah warga muslim turut melangkah masuk ke dalam gereja. Langkah mereka bukan hanya langkah menghadiri sebuah acara, melainkan langkah yang membawa pesan tentang persaudaraan.
Ketika waktu berbuka tiba, suasana menjadi semakin hangat. Di tengah perayaan jemaat, umat muslim yang hadir pun berbuka puasa bersama. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi jarak, melainkan jembatan untuk saling menghargai.
Kisah kebersamaan itu pun mengalir hingga ke media sosial dan menyentuh hati banyak orang. Salah satunya diungkapkan oleh pemilik akun Facebook, Nisnawati Dondolot.
“Saat bapak Sangadi Osland Lawrance bersama bapak imam masuk ke gereja, jujur kami sampai meneteskan air mata. Di tengah menjalankan puasa, mereka masih meluangkan waktu untuk hadir bersyukur bersama pada HUT Jemaat Pniel Siniyung. Luar biasa,” tulisnya, Senin (9/3/2026).
Bagi Sangadi Osland Lawrance, kehadiran dalam momen tersebut bukan sekadar menjalankan peran sebagai pemerintah desa. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bentuk dukungan terhadap nilai-nilai kebersamaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.
Ia pun berharap semangat toleransi dan persaudaraan yang telah terjalin di Desa Siniyung akan terus hidup dan dijaga oleh seluruh warga.
Di desa itu, senja Ramadan tidak hanya menghadirkan hidangan berbuka. Ia juga menghadirkan harapan bahwa di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk saling merangkul sebagai sesama. (/liet)






