BOLMONG – Di sebuah ruang pertemuan di Gedung Lembah Bening, Kotamobagu, Senin, (02/11/2026) Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Yusra Alhabsyi menyampaikan sebuah pesan yang sederhana, tetapi menyimpan makna besar bagi masa depan pendidikan.
Setiap anak harus memiliki kesempatan untuk belajar.
Pesan itu ditujukan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang hadir dalam Kegiatan Pendidikan Inklusif bagi Tenaga Kependidikan Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Yusra, sekolah tidak seharusnya menjadi ruang yang hanya mudah diakses oleh mereka yang dianggap memiliki kemampuan yang sama. Pendidikan harus membuka pintu selebar-lebarnya, termasuk bagi anak-anak dengan keterbatasan fisik, mental, intelektual, maupun mereka yang menghadapi hambatan sosial dan ekonomi.
“Tidak boleh ada satu pun anak di Kabupaten Bolaang Mongondow yang tertinggal atau terpinggirkan dari akses pendidikan hanya karena keterbatasan fisik, mental, intelektual, maupun hambatan sosial-ekonomi. Jargon ‘Pendidikan untuk Semua’ bukan lagi sekadar semboyan, melainkan sebuah kewajiban yang harus kita wujudkan bersama di tingkat SMP,” tegas Yusra.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Yusra itu turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan Bolmong, Irlansyah Mokodompit.
Mengusung tema “Mewujudkan Sekolah Ramah Anak, Ramah Disabilitas dan Tanpa Diskriminasi”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow untuk memperkuat penerapan pendidikan inklusif di jenjang SMP.
Namun, pendidikan inklusif bukan sekadar menghadirkan sebuah program atau kebijakan.
Menurut Yusra, perubahan harus dimulai dari cara sekolah memandang setiap anak. Dari cara guru menerima perbedaan. Dari bagaimana ruang kelas dibangun agar tidak ada peserta didik yang merasa asing di tengah lingkungan belajarnya sendiri.
Di titik itulah, guru dan tenaga kependidikan memegang peranan penting.
Mereka bukan hanya bertugas menyampaikan pelajaran. Mereka juga menjadi orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan keberagaman karakter, kemampuan, kebutuhan, dan latar belakang peserta didik.
Yusra pun menitipkan tiga pesan kepada para guru.
Pertama, menghilangkan stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus dan tidak memandang mereka sebagai beban dalam proses pembelajaran.
Kedua, terus meningkatkan kompetensi dan kapasitas profesional, terutama dalam menerapkan metode pembelajaran berdiferensiasi sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Ketiga, membangun komunikasi serta kolaborasi yang kuat dengan orang tua untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang suportif dan memastikan setiap anak terlindungi dari segala bentuk perundungan atau bullying.
Pesan tersebut menjadi penting ketika sekolah diharapkan tidak hanya mengejar angka-angka akademik.
Sebab, pendidikan juga berbicara tentang bagaimana seorang anak diterima. Tentang bagaimana potensinya dihargai. Dan tentang bagaimana keterbatasan tidak menjadi alasan untuk menutup kesempatan.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan itu menghadirkan dua narasumber di bidang pendidikan, Alex Herru Assa dan Dantje Daud Taula.
Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Bolmong berharap pemahaman mengenai pendidikan inklusif tidak berhenti di ruang pertemuan.
Pemahaman itu diharapkan tumbuh menjadi cara pandang baru di sekolah-sekolah. Masuk ke dalam ruang kelas, menjadi bagian dari proses pembelajaran, dan hadir dalam cara guru memperlakukan setiap anak.
Dengan semangat “Bersama dalam Keberagaman Menuju Pendidikan yang Berkualitas”, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow ingin membangun sekolah yang tidak hanya menjadi tempat untuk belajar.
Tetapi juga menjadi ruang yang memberi tempat bagi setiap anak untuk tumbuh.
Karena pada akhirnya, seperti pesan yang mengemuka dalam kegiatan itu, setiap anak memiliki hak yang sama untuk membuka pintu sekolah, duduk di ruang kelas, dan menatap masa depannya tanpa merasa berbeda, tanpa diskriminasi, dan tanpa kehilangan kesempatan untuk belajar.
Editor : Farid Alhasni


















