DUMOGA – Di atas tanah berbatu, seorang anggota Polri merebahkan tubuhnya. Seragam hitam melekat di badan, sementara perlengkapan tugas berada di dekatnya. Matanya terpejam, memanfaatkan waktu yang tersedia untuk sekadar melepas penat.
Tak jauh dari situ, sejumlah personel lainnya duduk beristirahat. Sebagian menyantap makanan, sementara yang lain tetap mengenakan perlengkapan pengamanan. Di tengah kebun yang terbuka, mereka mengambil jeda singkat di sela tugas yang harus dijalankan.
Pemandangan itu menjadi gambaran sisi lain dari tugas pengamanan di Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Konflik antarkelompok warga kembali terjadi di wilayah tersebut. Situasi ini menuntut kehadiran aparat kepolisian untuk menjaga keamanan dan mengupayakan agar pertikaian tidak semakin meluas.
Di tengah situasi tersebut, kebun menjadi tempat bagi para personel untuk beristirahat sejenak. Tidak ada ruang senyaman rumah. Tanah menjadi alas untuk merebahkan tubuh, sementara pepohonan dan langit terbuka menaungi mereka.
Di balik seragam dan perlengkapan pengamanan yang dikenakan, mereka tetap manusia biasa. Ada tubuh yang lelah, ada kebutuhan untuk memejamkan mata, dan ada tenaga yang harus dipulihkan. Namun, tanggung jawab menjaga keamanan masyarakat tetap menjadi bagian dari tugas yang mereka emban.
Polri untuk Masyarakat. Di tengah konflik yang kembali pecah di Dumoga, harapan agar pertikaian segera berakhir menjadi penting. Mereka yang terlibat bentrokan perlu menyadari bahwa di balik setiap amarah, ada kehidupan yang bisa terdampak, ada keluarga yang mencemaskan keselamatan orang-orang terkasih, dan ada anak-anak yang tetap membutuhkan masa depan yang damai.
Jangan sampai anak-anak kehilangan ketenangan untuk belajar, orang tua dihantui rasa takut saat mencari nafkah, atau keluarga harus hidup dalam kecemasan karena konflik yang terus berulang. Anak-anak tidak seharusnya menanggung akibat dari pertikaian orang dewasa. Mereka berhak bersekolah dengan aman, bermain tanpa ketakutan, dan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan persaudaraan, bukan permusuhan.
Kepada semua pihak yang bertikai, sudah saatnya menghentikan pertikaian dan membuka jalan untuk berdamai. Tidak ada persoalan yang harus diselesaikan dengan kekerasan, dan tidak ada kemenangan yang sebanding dengan hilangnya nyawa atau hancurnya hubungan persaudaraan.
Dumoga adalah tempat kehidupan harus terus berjalan. Kebun harus kembali digarap, anak-anak harus kembali bersekolah, dan keluarga harus dapat menjalani hari-hari mereka dengan tenang. Perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Sebab, sebesar apa pun persoalan yang terjadi, selalu ada jalan untuk menyelesaikannya tanpa menambah luka.
Biarkan konflik berhenti hari ini, agar anak-anak Dumoga tidak mewarisi permusuhan hari esok. Beri mereka kesempatan untuk tumbuh dalam kedamaian, menuntut ilmu dengan tenang, dan merajut masa depan tanpa dibayangi pertikaian. Karena perdamaian bukan sekadar berhentinya bentrokan, melainkan dimulainya kembali kehidupan yang aman bagi semua.



